UPAYA MENINGKATKAN
KEMAMPUAN BERBICARA
Oleh: Anindita Chairilina

  1. Latar Belakang
    Linguis berkata bahwa “speaking is language”. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari. Berbicara sudah barang tentu erat berhubungan dengan kosakata yang diperoleh dari sang anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Kebelum-matangan dalam perkembangan bahasa juga merupakan suatu keterlambatan dalam kegiatan-kegiatan berbahasa. Juga perlu kita sadari bahwa keterampilan-keterampilan yang diperlukan bagi kegiatan berbicara yang efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif dalam keterampilan-keterampilan berbahasa yang lainnya itu.
  2. Landasan Teori
    Sebagai landasan untuk membahas kasus ini, dirujuk beberapa teori yang berhubungan dengan permasalahan yang sudah ditentukan. Landasan teori ini berisi tentang:
  3. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
    Manusia adalah makhluk sosial, dan tindakannya yang pertama dan utama adalah tindakan sosial. Tindakan sosial haruslah terdapat elemen-elemen yang umum yang sama-sama disetujui dan dipahami oleh sejumlah orang yang merupakan suatu masyarakat. Untuk mengubungkan sesama anggota masyarakat maka diperlukanlah komunikasi.
    Komunikasi mempersatukan para individu ke dalam kelompok-kelompok dengan jalan menghablurkan konsep-konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang yang membedakannya dengan kelompok lain. Dengan perkata lain masyarakat berada dalam komunikasi linguistik. Ujaran sebagai suatu cara berkomunikasi sangat mempengaruhi kehidupan-kehidupan individual kita. Dalam sistem inilah kita saling bertukar pendapat, gagasan, perasaan, keinginan, dengan bantuan lambang-lambang yang disebut dengan kata-kata, dan bahasa dipergunakan sebagai alat untuk berkomunikasi. Sistem inilah yang memberikan keefektifan bagi individu dalam mendirikan hubungan mental dan emosional dengan anggota lainnya. Agaknya, tidak perlu disangsikan lagi bahwa ujaran hanyalah merupakan ekspresi dari gagasan-gagasan pribadi seseorang dan menekankan hubungan-hubungan yang bersifat dua arah, yakni memberi dan menerima. (Powers, 1954: 5-6).
    Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan selalu merupakan suatu kejadian, peristiwa, sesuatu yang terjadi; komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, yang mengandung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan pembicara. Komunikasi adalah serangkaian kegiatan perbuatan komunikasi atau speech acts yang dipergunakan secara sistematis untuk menyelesaikan atau menyampaikan maksud-maksud tertentu. Dalam hal ini harus kita tekankan pentingnya konsekuensi-konsekuensi komunikasi linguistik.

Ada tujuh fungsi bahasa menurut Halliday (1973) di antaranya adalah:

  1. Fungsi instrumental
    untuk menggerakan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi dan merupakan perbuatan komunikasi yang menimbulkan suatu kondisi khusus.
  2. Fungsi regulasi
    yakni fungsi pengaturan dari bahasa yang merupakan pengawasan terhadap peristiwa-peristiwa. Sementara pengawasan seperti itu kadang-kadang sukar dibedakan dari fungsi instrumental.
  3. Fungsi representasional
    penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan atau melaporkan dalam pengertian menggambarkan realitas yang terlihat oleh seseorang.
  4. Fungsi interaksional
    bahasa bertindak untuk menjamin pemeliharaan sosial.
  5. Fungsi personal
    membolehkan seseorang pembicara menyatakan perasaan, emosi, kepribadian, reaksi-reaksi yang terkandung dalam hati sanubarinya
  6. Fungsi heuristik
    melibatkan bahasa yang dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan, mempelajari lingkungan
  7. Fungsi imajinatif
    bertindak untuk menciptakan system-sistem atau gagasan yang imajiner
  8. Batasan dan Tujuan Berbicara
    Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial, dan pendidikannya. Aspek-aspek lain, seperti cara berpakaian atau mendandani pengantin, adalah bersifat eksternal, tetapi ujaran sudah bersifat inheren, pembawaan.

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Sebagai perluasan dari batasan ini dapat kita katakana bahwa berbicara merupakan suatu system tanda-tanda yang dapat di dengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Lebih jauh lagi, berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan factor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik sedemikian ekstensif, secara luas sehingga dapat dianggap sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial.
Dengan demikian, maka berbicara itu lebih daripada hanya sekedar pengucapan bunyi-bunyi atau kata-kata. Berbicara adalah suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya dan apakah dia waspada serta antusias atau tidak. (Mulgrave, 1954: 3-4).
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap (para pendengarnya), dan dia harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala situasi pembicaraan, baik secara umum maupun perorangan.
Apakah sebagai alat sosial (social tool) ataupun sebagai alat perusahaan maupun professional (business or professional tool), maka pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu :

  1. Memberitahukan, melaporkan (to inform)
  2. Menjamu, menghibur (to entertain)
  3. Membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade)
    (Ochs and Winker, 1979: 9)

Di bawah ini beberapa prinsip umum yang mendasari kegiatan berbicara, antara lain :

  1. Membutuhkan paling sedikit dua orang
  2. Mempergunakan suatu sandi linguistik yang dipahami bersama
  3. Menerima atau mengakui suatu daerah referensi umum
  4. Merupakan suatu pertukaran antara partisipan
  5. Menghubungkan setiap pembicara dengan yang lainnya dan kepada lingkungannya dengan segera
  6. Berhubungan atau berkaitan dengan masa kini
  7. Hanya melibatkan aparat atau perlengkapan yang berhubungan dengan suara atau bunyi bahasa dan pendengaran (vocal and auditoriauditory apparatus)
  8. Secara tidak pandang bulu menghadapi serta memperlakukan apa yang nyata dan apa yang diterima sebagai dalil.
  9. Faktor Pendukung Keefektifan Berbicara
    Untuk dapat menjadi pembicara yang baik, seorang pembicara selain harus memberikan kesan bahwa ia menguasai masalah yang dibicarakan, si pembicara juga harus memperlihatkan keberanian dan kegairahan. Selain itu pembicara harus berbicara dengan jelas dan tepat. Dalam hal ini ada beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh si pembicara.
    Faktor-faktor Kebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara
  10. Ketepatan Ucapan
    Seorang pembicara harus membiaskan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendenngar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang kita gunkan tidak selalu sama. Masing-masing kita mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang kita pakai berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi, kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, sehingga menjadi suatu penyimpangan, maka keefektifan komunikasi akan terganggu. Kita menyadari latar belakang penutur bahasa Indonesia yang memang bebeda-beda. Setiap penutur tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya.
  11. Penempatan Tekanan, Nada, Sendi, dan Durasi yang Sesuai
    Kesesuaiain tekanan, nada, sendi dan durasi akan merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Bahkan kadang-kadang merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik dengan penempatan tekanan, nada, sendi dan durasi yang sesuai akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya, jika penyampaian datar saja hampir dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.
  12. Pilihan Kata (Diksi)
    Pilihan kata hedaknya tepat, jelas dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang akan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan kata-kata yang sudah dikenal. Misalnya, kata-kata popular tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk, dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing.
  13. Ketepatan Sasaran Pembicaraan
    Hal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya. Susunan penuturan kalimat ini sangat besar pengaruhnya terhadap keefektifan penyampaian. Seorang pembicara harus mampu menyusun kalimat efektif, kalimat yang mengenai sasaran, sehingga mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan kesan, atau menimbulkan akibat.

Faktor-faktor NonKebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara

  1. Sikap yang wajar, tenang, dan tidak kaku
    Pembicara yang tidak tenang, lesu, dan kaku tentulah akan memberikan kesan pertama yang kurang menarik. Padahal kesan pertama ini sangat penting untuk menjamin adanya kesinambungan perhatian pihak pendengar. Dari sikap yang wajar saja sebenarnya pembicara sudah dapat menunjukkan otoritas dan integritas dirinya. Tentu saja sikap ini sangat banyak ditentukan oleh situasi, tempat, dan penguasaan materi. Penguasaan materi yang baik, setidaknya akan menghilangkan kegugupan. Namun bagaimana pun, sikap ini memerlukan latihan. Kalau sudah bisa, lama-kelamaan rasa gugup akan hilang dan akan timbul sikap tenang dan wajar. Sebaiknya dalam latihan sikap ini yang ditanamkan lebih awal, karena sikap ini merupakan modal utama untuk kesuksesan bicara.
  2. Pandangan harus diarahkan kepada lawan bicara
    Supaya pendengar dan pembicara betul-betul terlibat dalam kegiatan berbicara, pandangan pembicara sangat membantu. Hal ini sering diabaikan oleh pembicara. Pandangan yang hanya tertuju pada satu arah akan menyebabkan pendengar merasa kurang diperhatikan. Akibatnya perhatian berkurang, dan hendaknya diusahakan supaya pendengar merasa terlibat dan diperhatikan.
  3. Kesediaan menghargai pendapat orang lain
    Dalam menyampaikan isi pembicaran, seorang pembicara hendaknya memiliki sikap terbuka dalam arti dapat menerima pendapat dari pihak lain, bersedia menerima kritik, bersedia mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru. Namun, tidak berarti si pembicara begitu saja mengikuti pendapat orang lain dan mengubah pendapatnya, tetapi ia juga mampu mempertahankan pendapatnya dan meyakinkan orang lain.
  4. Gerak gerik dan mimik yang tepat
    Gerak-gerik dan mimik yang tepat dapat pula menunjang keefektifan berbicara. Hal-hal yang penting selain mendapat tekanan, biasanya juga dibantu dengan gerak tangan atau mimik. Hal ini dapat menghidupkan komunikasi, dalam artian tidak kaku. Tetapi gerak-gerik yang berlebihan akan mengganggu keefektifan berbicara. Mungkin perhatian pendengar akan terarah pada gerak-gerik dan mimik yang berlebihan ini, sehingga pesan mungkin kurang dipahami.
  5. Kenyaringan suara juga sangat menentukan
    Tingkat kenyaringan suara ini disesuaikan dengan situasi, tempat, jumlah pendengar, dan akustik. Tetapi perlu diperhatikan jangan berteriak. Kita aturlah kenyaringan suara kita supaya dapat didengar oleh semua pendengar dengn jelas, dengan juga mengingat kemungkinan gangguan dari luar.
  6. Kelancaran
    Seorang pembicara yang lancar berbicara akan memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyibunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar.
  7. Relevansi / Penalaran
    Gagasan demi gagasan haruslah berhubungan dengan logis. Proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan haruslah logis. Berarti berhubungan bagian-bagian kalimat, hubungan kalimat dengan kalimat harus logis dan berhubungan dengan pokok pembicaraan.
  8. Penguasaan Topik
    Pembicaraan formal selalu menuntut persiapan. Tujuannya tidak lain supaya topik yang dipilih betul-betul dikuasai. Penguasaan topik yang baik akan menimbulkan keberanian dan kelancaran.
  9. Faktor Penghambat Keefektifan Berbicara
    Adapun faktor-faktor yang dapat menghambat kelancaran berbicara adalah:
  10. Hambatan internal :
    a. Hambatan yang berkaitan dengan alat ucap manusia
    b. Kurangnya penguasaan berbahasa
    c. Hambatan terkait dengan penampilan
    d. Hambatan yang terkait dengan kesiapan mental
  11. Hambatan eksternal :
    a. Hambatan yang berkaitan dengan pendengar
    b. Hambatan yang berkaitan dengan pesan
    c. Hambatan yang berkaitan dnegna respon
  12. Cara Mengatasi Hambatan Dalam Keefektifan Berbicara
    Adapun cara untuk mengatasi hambatan dalam keefektifan berbicara adalah:
  13. Mengatasi hambatan internal
    a. Berkaitan dengan alat ucap manusia :
  • Latih dan lafalkan dengan keras serta cari padanannya
    b. Kurangnya penguasaan bahasa monoton :
  • Gunakan ungkapan yang khas
  • Sampaikan materi dengan bahasa yang padat
  • Gunakan kata kunci
  • Dramatisasikan pokok pikiran
  • Awali dengan pertanyaan
  • Susunlah pesan berdasarkan prioritas
  • Gunakan metafora
  • Gunakan anekdot
  • Gunakan kutipan
  • Ulangi pesan pokok
  • Gunakan bunyi yang miri
    c. Hambatan terkait dengan penampilan
  • Gunakan asesoris yang layak dan patut serta dapat mendukung keefektifan pembicaran
    d. Hambatan yang terkait dengan kesepian mental
  • Gugup: latihan intensif dan yakin dengan pikiran anda
  • Lupa mendadak: gunakan kertas contekan
  • Kurang keberanian: munculkan percaya diri dan latihan intensif
  • Kurang terbuka: yakin dengan gagasan dan bersedia untuk berbagi gagasan serta terbuka terhadap kritik orang lain
  • Emosional dan egois: tidak terlihat menggurui, gunakan contoh dan ilustrasi
  1. Mengatasi hambatan eksternal
    a. Hambatan terkait dengan pendengar
  • Pilih kata yang sesuai dengn pendengar
  • Pilih ateri yang umum dibicarakan
    b. Hambatan terkait dengan pesan
  • Gunakan bahasa dan struktur pesan yang jelas: buat outline
    c. Hambatan terkait dengan respons
  • Ciptakan kesan yang positif

A. Kesimpulan
Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan. Pendengra menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penempatan persendian. Jika komunikasi berlangsung secara tatap muka, ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimic) pembicara. Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan informasi dengan efektif, sebaiknya pembicara betul-betul memahami isi pembicaraannya, di samping juga harus dapat mengevaluasi efek komunikasinya terhadap pendengar. Jadi, bukan hanya apa yang akan dibicarakan saja, hal ini juga menyangkut masalah bahasa dan pengucapan bunyi-bunyi bahasa tersebut. Dalam hal ini terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keefektifan dalam berbicara.

Visit Us On YoutubeVisit Us On Instagram